Site icon Kompas Nusantara. online

SDN Kalibaruwetan 1 Putus Vendor MBG, Wali Murid Keluhkan Kualitas Makanan hingga Dugaan Keracunan

kompasnusantara.online

Banyuwangi – SDN Kalibaruwetan 1, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, resmi memutus kerja sama program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Masakan Anak Bangsa yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Kalibaruwetan.

Keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai keluhan dari wali murid terkait kualitas makanan, porsi yang dinilai tidak sesuai standar, hingga dugaan kasus keracunan yang sempat menimpa siswa dan guru.

Plt Kepala SDN Kalibaruwetan 1 Yanuar Ekpras Spd , membenarkan bahwa pihak sekolah telah menghentikan kerja sama dengan vendor MBG tersebut dan kembali menggunakan layanan dapur MBG di Desa Kajarharjo sekitar tanggal 6 April 2026.
“Benar, kami sudah memutus kerja sama dengan SPPG Yayasan Masakan Anak Bangsa Kalibaruwetan dan kembali ke SPPG Kajarharjo,” ujar Yanuar, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, sebelum adanya SPPG Yayasan Masakan Anak Bangsa, sekolah memang sudah lebih dahulu bekerja sama dengan SPPG Kajarharjo. Keputusan kembali ke vendor lama dilakukan setelah adanya masukan dan desakan dari sejumlah wali murid.
“Sebelumnya kami memang sudah bekerja sama dengan SPPG Kajarharjo. Karena ada masukan dari wali murid dan penawaran untuk kembali, akhirnya sekolah memutuskan pindah,” jelasnya.

Pihak Yayasan Masakan Anak Bangsa juga membenarkan perpindahan tersebut. Danny, perwakilan SPPG yayasan, menyebut SDN Kalibaruwetan 1 sebelumnya memang berada dalam cakupan pelayanan SPPG Kajarharjo.
“Mungkin pihak sekolah dan wali murid merasa lebih cocok dengan menu maupun pelayanan dari SPPG Kajarharjo,” katanya.

Namun di balik perpindahan itu, muncul sorotan tajam dari wali murid. Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku sejak awal banyak persoalan terjadi selama kerja sama dengan SPPG Yayasan Masakan Anak Bangsa.
“Masalahnya bukan sekali dua kali. Mulai kualitas makanan, porsi yang tidak sesuai standar, sampai dugaan keracunan terhadap siswa dan guru. Sampai sekarang belum ada penjelasan yang benar-benar jelas,” ungkapnya.

Ia menegaskan, desakan kepada pihak sekolah untuk pindah vendor dilakukan demi keamanan dan kesehatan para siswa.
“Yang kami pikirkan keselamatan anak-anak kami. Jangan sampai program MBG yang seharusnya menyehatkan justru menimbulkan masalah,” tegasnya.

Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat Kalibaru. Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah dinilai harus diawasi ketat, terutama menyangkut kualitas makanan, standar kebersihan, dan keamanan konsumsi bagi siswa. (Wahyu)

Exit mobile version